Miskin itu Takdir?
18 Januari 2008 kemarin aku ngobrol-ngobrol dengan pak Kadirin, seorang petugas parkir tak resmi (preman) di gedung Tenis Indoor Senayan. Ngalor-ngidul aku dan dia bercengkrama sekedar untuk membunuh waktu menunggu teman-temanku yang janjian di tempat itu. Sedikit petikan obrolannya,
"Banyak sekali tukang parkirnya, pak?" tanyaku membuka obrolan
"Iya nih, udah kebanyakan. jadi duitnya juga dibagi buat banyak orang." jawab pak Kadirin sambil merokok
"Memang nggak coba cari alternatif lain, misalnya dagang gitu."
"Wah nggak punya modal, mas!"
"Memang markirin mobil nggak pake modal?"
"Modal nekad dan berani begaul aja"
"Kalau sudah banyak yang markirin gini kan, penghasilan bapak jadi kecil." pancingku.
"iya sih. tapi gimana lagi. abis udah takdir saya jadi orang miskin…" pandangannya kosong ke arah abu rokoknya yang bertebaran di aspal.
"Kalau boleh kasih tau sih, miskin itu bukan takdir pak. Tuhan tidak pernah menakdirkan seseorang itu miskin, melarat, susah, dan mengenaskan. Dia juga nggak nakdirin orang itu kaya, sehat, senang, dan serba punya uang. Tidak. Tuhan nggak sejahat yang kita kira. Tuhan itu maha baik loh, pak."
"Iya sih, nggak mungkin Tuhan jahat."
"Nah, bapak sepakat kan. Kalau Tuhan itu baik, berarti dia nggak pernah menentukan kemiskinan buat seseorang. Karena sebetulnya kita sendirilah yang menentukan, mau miskin atau mau bebas dari kemiskinan."
"Saya sih nggak mau miskin terus. tapi dari dulu saya nggak pernah kaya!"
"Nggak mesti kaya, pak! yang penting kita tidak miskin dan kesusahan, apalagi nyusahin teman, atau keluarga kita. itu sudah cukup. Kalo mau kaya raya juga sih, bisa aja. Kalau kita mau belajar dan bekerja, pasti Tuhan ngasih apa yang kita inginkan."










