Kitab Suci Tak Berarti
Di metromini T506 jurusan Pondok Kopi-Kampung Melayu, duduk seorang bapak tua sedang asyik membaca kitab sucinya. Saat kondektur meminta ongkos, diberikannya uang limaribuan. Karena belum ada kembalian, kondektur memintanya sabar sebentar hingga ia mendapatkan recehan sebesar tiga ribu Rupiah.
Metromini sampai halte Imigrasi, setelah Penjara Cipinang. Beberapa penumpang turun, tak ada satupun penumpang baru yang naik. Ia lalu membentak kondektur, “Hoi! Kapan kau kembalikan uangku! Nanti kau pura-pura lupa lagi!” Sang Kondektur memintanya bersabar hingga ada penumpang baru yang membayar ongkos pakai ribuan. Pak tua itu kembali membaca kitab sucinya sambil ngedumel pelan-pelan.
Di pasar Rawabening Jatinegara, Enam penumpang baru naik. Semuanya membayar ongkos dengan uang pas, dua ribu Rupiah. Sebelum sampai di sebuah Rumah Sakit, ia meminta uang kembalian. Karena rada panik atau karena baru kali ini jadi kondektur, ia memberikan uang kembalian sebesar Delapan Ribu Rupiah. Menerima uang segitu, pak tua itu lantas buru-buru turun di depan toko sepatu Well Well. Mestinya pak Tua itu jujur saja. Atau paling tidak simpan saja Kitab Sucinya.











mungkin yang tidak berarti adalah bukan kitab sucinya. tapi kenyataan bahwa ternyata si bapak tidak bisa mengamalkan apa yang dibacanya di angkutan umum, jadi terkesan bahwa kitab sucinya tidak berarti. ya, harusnya dia jujur, lebih bersabar dan tidak mengandalkan emosi. kalau saya ada disitu saya tegur deh! gemes juga bacanya.
Comment by windi — August 17, 2008 @ 6:43 am
kitab sucinya sih berarti, namun ntu pak tau blum bisa mengamalkan ajaran tsb, mungkin pak tua bru blajar, jgnlah kita berpikiran negatif…
Comment by tofan — April 7, 2009 @ 9:11 pm