Kesalehan Vs Kepekaan
Dua kata ini terlintas di kepalaku setelah dalam perjalanan tadi aku mampir di sebuah mushalla kecil. Selesai berwudhu, akupun melangkah ingin memasuki musholla. Tapi tertunda. Mushalla (lebih tepatnya ruang kecil untuk shalat)yang hanya bisa dipakai shalat untuk 4 orang itu masih belum bisa kumasuki. Aku hanya berdiri di depan pintu yang berada di sisi kanan mereka yang sedang sholat Maghrib. Alhamdulillah, kulihat 3 orang selesai shalat, 1 lainnya masih melanjutkan rakaat terakhir, Sebentar lagi aku bisa shalat. Paling hanya beberapa menit mereka berdzikir dan berdoa, pikirku.
Sudah lebih 6 menit, mereka yang berdzikir dan berdoa belum juga beranjak dari duduknya. Sementara itu aku dan (kalau tak salah hitung) 5 orang di sekitarku juga kepingin shalat. Maka kuberanikan diri untuk menyapa salah satu dari mereka yang sedang khusyu’ berdzikir dan berdoa. Tapi aku hanya ditatap sebentar, lalu ia kembali asyik bermunajat kepada Tuhannya.
Satu dari empat orang di ruang kecil itu keluar. Ia adalah orang yang shalatnya paling akhir selesai. Baru selangkah kakiku maju, seseorang lainnya menyela dan menempati area kosong untuk satu orang itu. Akh, aku kurang cepat! Mungkin orang yang menyela tadi sudah tak sabar ingin menemui Tuhannya. Atau mungkin dia takut berdosa jika kehabisan waktu maghribnya. hm…
Menurutku, kesalehan tak ada manfaatnya jika tak dibarengi dengan kepekaan. Mengapa mereka yang saleh dalam melaksanakan ibadah ritual tak memiliki kepekaan terhadap lingkungan? Mengapa mereka hanya memikirkan kepentingan spiritualnya sendiri tanpa memberikan kesempatan untuk hamba Tuhan lainnya? Sebegitu parahkah kecerdasan emosional para pelaku perjalanan spiritual? Apakah pengalaman spiritual merupakan satu aspek yang kontradiktif dengan kepekaan sosial/emosional?
Waktu shalat jum’at, ada seorang bapak membawa serta putrinya yang masih belum sekolah. Sejak khatib mulai berkhotbah hingga jelang shalat, anak tersebut tak henti-hentinya menangis, berteriak minta pulang. Aku berprasangka, mungkin banyak orang yang merasa terganggu, beberapa orang menengok ke arah Bapak yang tetap duduk tak bergeming sementara anaknya menangis histeris. Rupanya bapak itu lebih mementingkan ibadahnya ketimbang memulangkan anaknya kepada istrinya yang aku tahu jaraknya tak lebih dari 20 M dari masjid ini. Mungkin Bapak itu lebih mementingkan pahala untuk dirinya dari Allah sehingga tak peduli dengan keresahan kaum muslimin semasjid. Apakah pengalaman spiritual merupakan satu aspek yang kontradiktif dengan kepekaan sosial/emosional?
Temanku curhat. Ia punya teman kerja (seorang perempuan). Setiap hari selalu telat masuk kantor. Ke kantorpun membawa serta anak-anaknya. Di kantorpun lebih banyak bermain dengan anak-anaknya ketimbang melayani customer yang berjejer di ruang tunggu. Setengah jam sebelum jam pulang, biasanya sudah dijemput oleh suami tercinta. Temanku beberapakali mengingatkannya, namun tak pernah bisa berubah. Yang membuat temanku kesal, teman kantornya itu adalah satu-satunya karyawan yang rajin shalat. Itu ia ketahui dari formulir pribadi berjudul "lembar mutaba’ah" yang pernah diperlihatkannya. Temannya selalu shalat 5 waktu, setiap pekan menghafal beberapa ayat al-qur’an dan hadits, menghadiri pengajian rutin pekanan, membaca al-ma’tsurat, shaum sunnah, qiyamullail, dll. Tetapi mengapa kegiatan rutin yang ia lakukan itu tak membuat spiritualitasnya cerdas dan peka terhadap lingkungan dan pekerjaan?
Sebenarnya masalah seperti ini pernah kutulis pada postingan, Obat atau Selembar Resep… Kegiatan spiritual, tak akan memiliki manfaat sosial jika hati pelakunya tak benar-benar tunduk dan sujud kepada Allah. Banyak orang yang rajin sujud, bahkan hingga jidatnya kapalan (menghitam), namun dalam kehidupan sehari-hari tak pernah sujud. Justru ia ingin semua orang sujud kepadanya (baca: menuruti kemauannya, menghormati kesalehannya). Sujud yang ia lakukan kala shalat tak membuatnya sujud ketika lepas shalat. Bacaan sujud yang ia ucapkan, Subhana rabbiyal A’la wa bihamdihi, justru malah membuatnya merasa lebih suci, merasa posisinya lebih tinggi, dan gila pujian. hm… sudah saatnya nyukur jenggot nih… 











“Kegiatan spiritual, tak akan memiliki manfaat sosial jika hati pelakunya tak benar-benar tunduk dan sujud kepada Allah.”
Begitu juga sebaliknya, kegiatan sosial tak akan memiliki manfaat spiritual jika ….dst.
Yah, hidup seimbang memang berat, ya Bang! Prasangka saya, orang-orang yang suka ekstrim (baik kiri ato kanan) adalah orang yang pada males mikir lebih dalam ke ide dasar tindakannya. Sialnya, saya sering kali termasuk di dalamnya.
Btw, kenapa jenggotnya mesti dicukur? :D
Comment by sinetron andergron — May 21, 2007 @ 12:17 pm
Theme baruu, jauh lebih ringan dari kemarin yang banjir banner :P
Btw, masih mending lah tidak peka, lebih aman kalau mereka mengurung diri di rumah tuhan. Daripada orang-orang “saleh” itu berkeliaran terus ngerusak bakar sana sini? Atau lebih parah, menebar benih kebencian dan perpecahan untuk bikin negara sendiri-sendiri… eh, ga oot kan?
Comment by wadehel — May 22, 2007 @ 9:50 am
menurut gw orang seperti itu (lebih mementingkan ibadah-sunnah-individual seraya menghambat saudaranya untuk menyegerakan yang wajib)belum masuk kategori soleh. mungkin tingkatannya baru sampe bambang, agus, atau dedi. jangankan soleh, level isev dan rijal aja gak nyampe. sebab, setahu gw soleh itu orangnya baik hati, penuh pengertian, dan senang menolong, huahaha jaka sembung bgt ya &%$#%%
Comment by CR — May 22, 2007 @ 2:09 pm
@ sinetron andergron
bahaya banget ya efek dari males mikir. soal jenggot, tanya sama CR aja…
@ wadehel
Saya sedang berusaha mengurangi banner, pake theme ini kayaknya pas. nggak OOT kok, kan “orang2 soleh” itu memang doyan begitu…
@ CR
berarti sebelum level soleh, ada 2 level di bawahnya yaitu : level isev dan rijal, lalu dibawahnya lagi level bambang, agus, dedi…
trus level bayi, beni, ompong, lurah, ada dimane?
Comment by MT — May 23, 2007 @ 7:54 am
kalo mereka, buang ke laut aje, mereka nggak punya level (kalo dipaksain paling levelnya jadi multi-level-marketing). abis orang nggak ada bagusnya, mo ditaro di mane juge nggak pantes
Comment by CR — May 23, 2007 @ 11:16 am
akhirnya ada juga yang membahas soal ini.
ya, padahal Islam tidak hanya mengedepankan hubungan vertikal (seorang hamba dengan Tuhannya) namun juga hubungan horizontal (hubungan antar manusia). hal itu mestinya seimbang. tapi yang sekarang banyak ada ya nggak seimbang gitu deh.
nggak heran kalau Rasulullah pernah bersabda bahwa suatu saat umat Islam akan bagaikan buih di lautan. hal itu nggak cuma masalah “nggak bermutu”, tapi juga “nggak peka terhadap kondisi sekitarnya”.
Comment by kikie — May 23, 2007 @ 6:48 pm
waktu ngantri wudlu di mal jadi inget postingan ini. Ada ibu2 wudlu sambil naro tasnya di kran disebelahnya. Keran Cuma ada 4, yg antri mgkn lebih 10 orang, blm lagi di luar mushalla sampai berdesakan. Jadi dia sendiri pakai 2. aku coba bilang, “Bu tasnya disandang aja ya, maghribnya hampir habis nih…” eh dia jawab…”Gak sabar amat sih, tunggulah…”
Doh apa yg ada di kepalanya ya? Mana wudlunya lelet lagi? Untung gak ketularan tukul…”tak sobek-sobek…”
Masih inget mau menemui Kekasih di rumahNya, jadi diem aja
Kalau agama hanya ritual, begitulah jadinya
Lagian siapa yg berhak menentukan kesalehan seseorang? Hanya Allah yang tahu.
Aku sendiri terbiasa dg orang2 yang bilang: “My God is here (sambil nunjuk dada, and here (nunjuk kepala). Tak beragama namun dalam praktek kehidupan yang paling tinggi kemanusiaannya. Entahlah…
Mungkin orang saleh bisa jawab?
Kalo pak saleh sih lagi jumatan nih
Eh soal perempuan yg bawa anak kerja aku terinspirasi nulis tuh di blog. Emang nggak ada hubungan dg kesalehan kali, hub dg professionalism hm..hmmm…
Hihi komennya puanjaaaaang :)
Comment by meiy — June 8, 2007 @ 12:37 pm
ada lagi yang jadi trend baru…
setiap tahun pergi berhaji sementara keadaan lingkungan sekitar masih perlu banyak kucuran dana….
Comment by kangwahana — August 19, 2007 @ 10:51 am
orang beriman dan saleh akan berakhlak baikpula jika tidak maka ia belum saleh kan ?
semoga kita bisa saleh dan peka serta berakhlak mulia seperti rasul teladan kita
seperti itu kan kita seharusnya.
Comment by joko yulianto — February 25, 2009 @ 2:07 pm