Gimme Some Truth

Official Blog Mataharitimoer [kadang dipanggil: MT | Te | Prass | Epe | Orangutan]

Obat atau Selembar Resep?

Dalam khutbah Jum’at seorang khatib berpesan kepada diri dan jamaah. Ia mengajak agar setiap orang memberikan makanan baik buat akal, jasmani, dan ruhani. Makanan akal adalah ilmu pengetahuan. Makananjasmani adalah semua makanan (tentunya yang halal) yang biasa kita makan. Sedangkan makanan ruhani adalah ibadah wajib dan sunnah yang mesti dilakukan seperti shalat tahajjud, shaum sunnah, dzikir, dan riyadhah-riyadhah lain yang berorientasi pada peningkatan spiritual.

Dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang kita dihadapkan pada sebuah kondisi, dimana seorang yang rajin belajar, rajin beribadah, rajin riyadhah, namun masih melakukan kekhilafan sebagai manusia. Ia masih senang melakukan ghibah, masih senang memprovokasi orang lain agar membenci orang yang dia benci, masih memfitnah, masih suka mendengar informasi tanpa mencari kebenaran atas informasi tersebut, masih ada juga yang terlalu picik dalam menginterpretasikan sikap tetangganya menjadi hal-hal yang negatif. Negatif minded, salah satu frase yang mungkin bisa mewakili kondisi barusan.

Bagaimana bisa orang yang rajin beribadah dan rajin riyadhah masih juga melakukan hal-hal naif seperti saya ungkap di atas. Ada beberapa jawaban atas kondisi ini. Pertama dan paling umum adalah jawaban yang menyitir syair Seurieus “Rocker Juga Manusia”. Jawaban ini tidak salah juga sih, memang manusia itu lekat dengan sifat khilaf. Jawaban seperti ini menganggap kesalahan itu sebagai kewajaran dan harus dimaklumi. Permasalahannya, jika kewajaran selalu menjadi jawaban, dimanakah kita posisikan kebodohan?

Orang yang menganggap kewajaran sebagai perilaku biasa, akan membiarkan perilaku naif seorang muslim itu sebagai penyakit yang makin lama makin kronis. Bisakah kita menerima dengan akal dan hati kita ketika mendengar kalimat, wajar saja masyarakat menebang pohon sembarangan, wajar saja pemerintah memberikan HPH karena negara butuh devisa, wajar saja pengerukan tanah dan pasir dilakukan karena rakyat butuh makan, wajar saja hutan gundul karena masyarakat sibuk cari makan. Masihkah kita menganggap wajar apabila bencana tsunami, tanah longsor, banjir bandang, kebakaran hutan, merupakan akibat dari fasad dan kebodohan?

Jawaban lain tentang orang yang rajin ibadah dan riyadhah namun tetap berlaku jahul biasanya karena setiap diri kita masih dalam proses pembinaan, maka wajar saja kalau masih ada kekhilafan dan atau kesalahan. Memang kita bukan orang suci. Tapi jika kesalahan kita justifikasi dengan alasan pembinaan atau tarbiyah, saya sangat keberatan. Dengan menganggap wajar setiap kesalahan yang dilakukan oleh jamaah tarbiyah, secara tidak langsung itu merupakan perendahan atas kualitas tarbiyah yang selama ini dilakukan. Jawaban tersebut secara implisit menganggap bahwa tarbiyah yang sudah bertahun-tahun dilaksanakan sama sekali tidak memberikan efek positif bagi pesertanya. Lalu apakah kita harus menyalahkan tarbiyah secara kelembagaan?

Ini merupakan soal yang harus kita jawab bersama. Saya akan menceritakan sebuah kisah fiksi. Seorang pasien datang ke dokter. Ia mengeluhkan penyakitnya. Dokter memeriksa sakit pasiennya hingga memberikan resep obat. Hanya resep obat dan cara memakan obat tersebut. Apakah dengan resep itu pasien bisa sembuh? Secara nalar kita tahu jawabannya.

Tarbiyah secara kelembagaan bisa saja dijadikan sebagai tempat pelatihan pengobatan namun bisa juga menjadi obat. Tergantung dari siapa yang menyikapinya. Begitu juga dengan ibadah dan riyadhah, bisa merupakan resep obat maupun obat. Orang yang menjadikan tarbiyah hanya sebatas resep dan tempat pelatihan penyembuhan, maka akan selamanya melakukan latihan tanpa menikmati kesembuhan. Orang yang menginsyafi ibadah hanya sebagai resep dan metode penyembuhan, akan selamanya jungkir balik dan kelaparan namun sama sekali tak kunjung menikmati kesehatan spiritual.

Kita belajar fiqih dan tauhid. Membahasnya dalam setiap pertemuan. Menyampaikannya dalam setiap pembelajaran. Namun fiqih dan tauhid itu yang kita jadikan materi sehari-hari tak mampu menyingkap tabir makrifat. Kita tak mendapatkan sibghah tauhid. Apakah gerangan yang menjadi tabir antara hamba dan Allah? Apakah yang membuat jarak kita semakin tak mendekat dengan Nur Ilahi?

Tarbiyah merupakan kata yang satu akar dengan murabbi. Kedua istilah itu merupakan penjabaran dari kata agung ar-Rabb. Tarbiyah itu merupakan bagian dari upaya menyingkapkan tabir antara hamba dengan Tuhannya. Tarbiyah adalah obat manakala jamaah mengalami penyakit hati. Tarbiyah adalah laboratorium yang akan memeriksa tingkat keparahan penyakit lalu memberikan terapi. Lalu siapakah yang mengobati? Hanya Allah. Bilakah Allah menyembuhkan penyakit hambanya? Ketika tak ada hijab antara hamba dan Sang Prima Causa. adabbani rabbi, fa ahsana ta’dib… [CR  :) punya pengalaman menarik tentang kalimat terakhir barusan?]

Coretan ini belum selesai… silakan lanjutkan/komentari bagi yang minat.

Cihideung Forest, 13 Januari 2006




Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://mataharitimoer.blogsome.com/2006/01/13/obat-atau-selembar-resep/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

 
www.tips-fb.com