Gimme Some Truth

Official Blog Mataharitimoer [kadang dipanggil: MT | Te | Prass | Epe | Orangutan]

Pikiran Negatif, Rejeki Negatif

Badrul terlalu sering berpikiran negatif terhadap apa yang dia hadapi. Kalau tidak menanggapi sesuatu secara negatif, paling banter ia mencurigai apa yang dilihatnya sebagai suatu kekhawatiran. Waktu temannya memberikan seekor ikan bakar, setelah memakannya, ia komentar (tentu tanpa sepengetahuan yang memberi), “ngasih ikan bakar, kecil banget!” di lain waktu ia ngedumel, “ikan bakar kok keasinan!” pernah juga bilang, “nggak saya makan, habis terlalu pedas sih, mending saya kasih anjing tetangga saja!” Waktu mengembalikan pinjaman sepeda motor teman sekantor, ia bilang, “motor kamu itu nggak enak banget dipakainya! Remnya nggak pakem!” 

Suatu ketika, perusahaan tempatnya bekerja mengajak seluruh karyawan berlibur ke Ancol. Di perjalanan, ia ngedumel kepada beberapa teman-temannya, “Bosan, liburan ke Ancol terus! Padahal enakan ke Pantai Anyer… dasar perusahaan pelit!” Begitupun ketika mendengar rencana tetangganya menikah dengan seorang Negro, ia curiga, “Rugi deh nikah sama Negro. Siapa tau aja itu Negro pura-pura masuk Islam, trus pas sudah nikah, istrinya dipaksa jadi Kristen! Dasar perempuan bego!”

Badrul terbiasa begitu. Dalam kelompoknya ia dijuluki ketua KABOET, alias Kesatoean Aksi Boedjangan Toea. Entah kenapa dia nggak pernah mendapatkan pasangan hidup. Kini dia merasa makin hari makin jarang orang memberinya hadiah, membantunya meminjamkan sesuatu, dan sudah jarang ditraktir temannya yang baru dapat rejeki nomplok. Mungkin karena terbiasa berkomentar negatif sehingga teman-temannya jadi malas memberinya pertolongan.

Kemarin, Badrul kehabisan ongkos buat pulang kerja. Gajinya sebulan memang hanya cukup untuk hidup 20 hari saja. Ia berusaha meminjam uang dari satu teman ke teman lainnya. Hasilnya nihil. Sambil berjalan kaki, ia ngedumel sendiri, “Dasar orang-orang pelit! Nggak setia kawan! Nggak ngerti kalau orang lagi susah!” sepanjang jalan ia terus mencaci maki sikap teman-temannya, hingga ia keserempet Bajaj yang doyan zig-zag di tengah kemacetan.

 




Kitab Suci Tak Berarti

Di metromini T506 jurusan Pondok Kopi-Kampung Melayu, duduk seorang bapak tua sedang asyik membaca kitab sucinya. Saat kondektur meminta ongkos, diberikannya uang limaribuan. Karena belum ada kembalian, kondektur memintanya sabar sebentar hingga ia mendapatkan recehan sebesar tiga ribu Rupiah.

Metromini sampai halte Imigrasi, setelah Penjara Cipinang. Beberapa penumpang turun, tak ada satupun penumpang baru yang naik. Ia lalu membentak kondektur, “Hoi! Kapan kau kembalikan uangku! Nanti kau pura-pura lupa lagi!” Sang Kondektur memintanya bersabar hingga ada penumpang baru yang membayar ongkos pakai ribuan. Pak tua itu kembali membaca kitab sucinya sambil ngedumel pelan-pelan.

Di pasar Rawabening Jatinegara, Enam penumpang baru naik. Semuanya membayar ongkos dengan uang pas, dua ribu Rupiah. Sebelum sampai di sebuah Rumah Sakit, ia meminta uang kembalian. Karena rada panik atau karena baru kali ini jadi kondektur, ia memberikan uang kembalian sebesar Delapan Ribu Rupiah. Menerima uang segitu, pak tua itu lantas buru-buru turun di depan toko sepatu Well Well. Mestinya pak Tua itu jujur saja. Atau paling tidak simpan saja Kitab Sucinya.




Cintai Pekerjaan, Terasa Cepat Waktu Berjalan

Jika kita melakukan pekerjaan tanpa rasa senang apalagi cinta, maka kita akan mudah merasa bosan dan lelah. Kita akan merasa waktu berputar begitu lama menuju akhir pekerjaan. Berbeda jika kita melakukan pekerjaan dengan rasa cinta. Kita akan menikmati pekerjaan itu hingga tak terasa, tiba-tiba waktu menjadi begitu cepat berputar.

Setiap pekerjaan memiliki resiko. Resiko itu terjadi dalam proses pelaksanaan pekerjaan. Banyak orang yang bekerja tapi tak menyukai prosesnya. Jika kita seperti itu, maka kita akan selalu merasa tersiksa dalam menjalani prosesnya. Apalagi jika ada masalah dalam proses tersebut, biasanya kita akan merasa sempit. Pikiran kitapun menjadi negatif terhadap lingkungan kerja.

Mestinya kita mau mencoba bersabar dalam menjalani prosesnya. Dan selalu berusaha menanamkan pikiran positif terhadap lingkungan kerja kita. Jika kita berhasil berbuat demikian, masalah apapun yang terjadi dapat kita terima dengan lapang dada. Ini memang masalah pikiran dan hati. Jika kita berprasangka buruk, maka alam yang luas akan menjadi begitu sempit. Tapi Jika kita berprasangka baik, maka keadaan diri kitapun akan menjadi baik. Dan masalah sebesar gunungpun akan menjadi seringan kapas.




Terbiasa Pelit

Suatu hari si Plenyun berjanji memberikan pinjaman kepada temannya yang miskin. Ia menyatakan janjinya di depan si miskin dan seorang perempuan pujaannya. Temannya memang sedang membutuhkan uang agar bisa mengikuti ujian tingkat akhir. Plenyun bilang, “Saya akan beri kamu uang itu agar kamu bisa ikut ujian.”

Ketika datang hari yang dijanjikan, si miskin menagih janji Plenyun. Namun Plenyun berkelit, “Kalau saya membantumu, saya takut kamu jadi manja, tidak mandiri!” Si miskin memohon kepada Plenyun agar memberinya 50% saja dari janjinya. Sisanya akan ia usahakan sendiri. Plenyun setuju dengan syarat, si miskin bekerja keras untuk membantunya mendapatkan uang lebih banyak dari biasanya. Si miskin setuju dan menjalani syarat tersebut. Bahkan ia bekerja lebih dari yang semestinya ia lakukan. Plenyun semakin mendapatkan penghasilan besar dari biasanya sedangkan si miskin hanya mendapatkan 0.1% dibandingkan toeannja.

Orang yang terbiasa pelit memang sulit untuk bisa berbagi. Dalam pikirannya, jika ia memberikan sedikit bantuan, maka hartanya akan banyak berkurang. Ia tak pernah benar-benar bisa merasakan pedihnya menjalani kemiskinan. Ia hanya mau berjanji membantu orang miskin jika yakin akan mendapatkan pujian atau keuntungan.

Sahid Jaya, 20 Mei 08 




Foto CM Arsyad LC

Buat K-System Aceh, jika mau download foto ini, KLIK SAJA LINK INI. lalu tinggal klik  SAVE saja (jika pakai firefox) sukses!!